Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Sampah Organik Yang Sangat Mudah Untuk Dicoba

cara membuat pupuk kompos dari sampah organik

Cara membuat pupuk kompos dari sampah organik umumnya sama saja seperti pengomposan yang dari bahan baku lainnya. Sehingga dapat membuat anda dengan mudah membuatnya sebagai peluang bisnis atau usaha yang menguntungkan.

Sampah sendiri memiliki definisi benda dan atau material yang sudah tidak berfungsi/berhenti berfungsi dan tidak terpakai karena berakhirnya suatu proses. Sedangkan sampah organik adalah sampah masih bisa kita gunakan dan bisa menghasilkan sesuatu yang baru melalui proses daur ulang yang benar, dalam hal ini sebagai pupuk.

Seperti yang anda ketahui begitu mahalnya pupuk bagi tanaman, tak sedikit juga uang yang harus kita keluarkan untuk bisa menikmati pupuk pabrikan. Namun dengan kreatifitas dan sedikit niat sejatinya anda bisa mengubah sampah menjadi pupuk kompos.

Pengertian Dari Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Sampah Organik

cara membuat pupuk kompos dari sampah organik

Bagaimana terjadinya pupuk kompos? Yaitu proses terbentuknya humus di alam. Namun dengan cara merekayasa kondisi lingkungan dan menambahkan beberapa unsur, pembuatan pupuk kompos dapat dipercepat yaitu hanya dalam jangka waktu 2 minggu sampai 1 bulan.

Waktu ini melebihi kecepatan terbentuknya humus secara alami. Oleh karena itu, pupuk kompos dapat selalu dibuat dan tersedia sewaktu-waktu diperlukan tanpa harus menunggu bertahun-tahun. Dengan konsep tersebut maka pupuk organik bisa juga anda sebut pupuk buatan yang memanfaatkan bahan organik.

Cara membuat pupuk kompos dari sampah organik sendiri di bedakan menjadi  2 jenis yakni :

  1. Sampah organik basah  adalah sampah organik yang memiliki kandungan air yang cukup tinggi misalnya kulit buah dan sisa sayuran.
  2. Sampah organik kering adalah kebalikan dari sampah organik basah yang meliputi kertas, kayu atau ranting pohon, dan dedaunan kering.

Faktor Yang Memengaruhi Cara Membuat Pupuk Pompos Dari Sampah Organik

Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi oksigen cukup tersedia. Aerasi ditentukan oleh kandungan air bahan baku. Apabila aerasi terhambat, maka akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.

Menyediakan rongga yang akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dipenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.

Kelembapan memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba. Kelembapan 40 – 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba.

Langkah-langkah Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Sampah Organik

  1. Bahan baku : sampah limbah rumah tangga yang sudah anda sortir, sampah coklat, sampah hijau, tanah.Alat : Bak atau drum plastik besar, karung goni, paving block.
    Bahan tambahan : EM4
  2. Campurkan satu bagian sampah organik dengan satu bagian sampah coklat ke dalam bak atau drum plastik besar yang di bawahnya telah ditutupi dengan tanah dan diberi lubang sebagai jalan mengeluarkan kelebihan air.
  3. Berikutnya tambahkan satu lapisan tanah pada bagian atas dan biarkan mikroba aktif dalam tanah bekerja mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Ulangi proses kedua dan ketiga untuk lapisan berikutnya hingga bahan baku sampah dan tanah habis. Kemudian tutup drum dengan karung goni.
  4. Setelah satu minggu, buka dan aduk pupuk kompos tersebut, kemudian tutup kembali dan lakukan proses tersebut setiap seminggu sekali. Untuk mempercepat proses pengomposan, anda dapat menambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism.
  5. Setelah kurang lebih 1 bulan, cek akhir pupuk kompos. Jika campuran pupuk sudah berwarna kehitaman dan tidak berbau sampah lagi, berarti proses pengomposan telah selesai dan tidak ada masalah.

Kelebihan Dari Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Sampah Organik

  • Mampu menyediakan bahan pupuk organik yang murah dan ramah lingkungan.
  • Mengurangi tumpukan sampah organik yang berserakan di sekitar tempat tinggal.
  • Membantu pengelolaan sampah secara dini dan cepat.
  • Menghemat biaya pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).
  • Mengurangi kebutuhan lahan tempat pembuangan sampah akhir (TPA).
  • Menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dan gangguan berupa bau, selokan macet, banjir, tanah longsor, serta penyakit yang ditularkan oleh serangga dan binatang pengerat.